Selamat Datang di Blog Paskibra SMK Negeri 1 Slawi

Ambalan Paskibra


1. Garis Hitam Segi Lima
    Bahwa Paskibra SMKN 1 Slawi berjiwa pancasila dan berusaha mengamalkannya dalam  kehidupan    sehari-hari.

2. Dasar Warna Merah dan Putih
    Bahwa Paskibra SMKN 1 Slawi memiliki sifat berani karena benar dan hati nurani yang suci.

3. Bintang Berwarna Kuning
    Bahwa Paskibra SMKN 1 Slawi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

4. Padi dan Kapas
    Bahwa Paskibra SMKN 1 Slawi berusaha memakmurkan dan mensejahterakan bangsa Indonesia.

5. Bendera dan Bunga Melati 
    Bahwa Paskibra SMKN 1 Slawi menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan.

6. Pita Berwarna Kuning
    Bahwa Paskibra SMKN 1 Slawi merupakan satu keluarga besar yang terikat oleh sumpah dan janji paskibra.


Mars Paskibra

Marilah Saudara harapan ibunda
Marilah Berjasa untuk Nusa & Bangsa
Paskibraka telah siap sedia 2X
Paskibra Pembawa Pengibar Bendera Kita
Paskibraka siap sedia ya...ya...ya...ya...yipia
yipia ya ...ya yipi ya...ya....ya
yipi pia ....
paskibraka siap sedia....

Sejarah Pembuatan Lagu Indonesia Raya

Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po.
Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka menyanyikan lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!" (bukan "Merdeka, Merdeka!") pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan. Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.
Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda. Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pula Boola-Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak.

Naskah pada koran Sin Po (1928)

Lagu Indonesia Raya diciptakan oleh WR Supratman dan dikumandangkan pertama kali di muka umum pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta (pada usia 25 tahun), dan disebarluaskan oleh koran Sin Po pada edisi bulan November 1928. Naskah tersebut ditulis oleh WR Supratman dengan Tangga Nada C (natural) dan dengan catatan Djangan Terlaloe Tjepat, sedangkan pada sumber lain telah ditulis oleh WR Supratman pada Tangga Nada GMarcia , Jos Cleber (1950) menuliskan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).
(sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a - e) dan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).

Aransemen simfoni Jos Cleber (1950)

Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan — justru — oleh orang Belanda (atau Belgia) bernama Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) yang tutup usia tahun 1999 pada usia 83 tahun. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI Jakarta Jusuf Ronodipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen baru, yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari Presiden Soekarno.

Rekaman asli (1950) dan rekam ulang (1997)

Rekaman asli dari Jos Cleber tahun 1950 dari Orkes Cosmopolitan Jakarta, telah dimainkan dan direkam kembali secara digital di Australia tahun 1997 berdasarkan partitur Jos CleberAddie MS yang tersimpan di RRI Jakarta, oleh Victoria Philharmonic di bawah pengarahan


Indonesia Raya

Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini pertama kali diperkenalkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Lagu ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme Indonesia yang mendukung ide satu "Indonesia" sebagai penerus Hindia Belanda, daripada dipecah menjadi beberapa koloni. seluruh nusantara di
Stanza pertama dari Indonesia Raya dipilih sebagai lagu kebangsaan ketika Indonesia mem[p]roklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Indonesia Raya dimainkan pada upacara bendera. Bendera Indonesia dinaikkan dengan khidmat dan gerakan yang diatur sedemikian supaya bendera mencapai puncak tiang bendera ketika lagu berakhir. Upacara bendera utama diadakan setiap tahun pada tanggal 17 Agustus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Upacara ini dipimpin oleh Presiden Indonesia.

Indonesia Raya - Lagu Kebangsaan Republik Indonesia

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Bagaimana Tanggapan Anda..????

Hanya karena kalah dalam pertandingan bola voli antarkampung yang digelar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-66, belasan pemuda nekat berbuat cela. Mereka merusak bendera Merah Putih yang dipasang di sepanjang jalan desa.
Peristiwa menyedihkan itu terjadi di Dusun Butuh, Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Minggu (24/7/2011) petang. Para pelaku adalah warga Dusun Boging, Desa Bodag, yang baru pulang dari menonton pertandingan bola voli antarkampung di Lapangan Dusun Butuh.
Ningsih (30), warga Dusun Butuh, yang melihat kejadian, mengatakan, belasan pemuda melaju dengan sepeda motor dari arah Dusun Butuh menuju Dusun Boging. Dari atas kendaraan itu mereka menarik sedikitnya 13 bendera yang dipasang di tiang bambu di depan rumah warga.
Penarikan bendera dilakukan secara paksa sehingga sebagian robek dan sebagian lagi tercabut beserta tiangnya. Bendera yang robek itu kemudian digelandang sepanjang jalan, dipermaikan, dan diperlakukan dengan tidak hormat layaknya sebuah lambang negara yang memiliki nilai sejarah tinggi. 

Bagaimana Tanggapan Anda..????

Sang Saka Merah Putih

Sang Saka Merah Putih merupakan julukan kehormatan terhadap bendera Merah Putih negara Indonesia. Pada mulanya sebutan ini ditujukan untuk bendera Merah Putih yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, saat Proklamasi dilaksanakan. Tetapi selanjutnya dalam penggunaan umum, Sang Saka Merah Putih ditujukan kepada setiap bendera Merah Putih yang dikibarkan dalam setiap upacara bendera.
Bendera pusaka dibuat oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno, pada tahun 1944. Bendera berbahan katun Jepang (ada juga yang menyebutkan bahan bendera tersebut adalah kain wool dari London yang diperoleh dari seorang Jepang. Bahan ini memang pada saat itu digunakan khusus untuk membuat bendera-bendera negara di dunia karena terkenal dengan keawetannya) berukuran 276 x 200 cm. Sejak tahun 1946 sampai dengan 1968, bendera tersebut hanya dikibarkan pada setiap hari ulang tahun kemerdekaan RI. Sejak tahun 1969, bendera itu tidak pernah dikibarkan lagi dan sampai saat ini disimpan di Istana Merdeka. Bendera itu sempat sobek di dua ujungnya, ujung berwarna putih sobek sebesar 12 X 42 cm. Ujung berwarna merah sobek sebesar 15x 47 cm. Lalu ada bolong-bolong kecil karena jamur dan gigitan serangga, noda berwarna kecoklatan, hitam, dan putih. Karena terlalu lama dilipat, lipatan-lipatan itu pun sobek dan warna di sekitar lipatannya memudar.
Setelah tahun 1969, yang dikerek dan dikibarkan pada hari ulang tahun kemerdekaan RI adalah bendera duplikatnya yang terbuat dari sutra. Bendera pusaka turut pula dihadirkan namun ia hanya 'menyaksikan' dari dalam kotak penyimpanannya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More